Sisi lain dari drama korea ‘Start-Up’ – 2020

Sinopsis Drakor Start Up Episode 7: Nam Do Sam Putuskan Berkata Jujur Pada  Seo Dal Mi? - Moreschick
source: https://images.app.goo.gl/JDBMYV8sfNqLzVu57

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahiim… Hai readers! lama gak nulis nih. Sekalinya nulis lagi malah drakor :D. Eits, tunggu dulu, jangan keburu males baca atau salah arti yaa. Drama korea yang satu ini emang lagi happening banget nih belakangan ini, dan tinggal 2 episode lagi menuju akhir, jadi emang lagi gemes-gemesnya dibahas di mana-mana. “Jadi, kamu di tim mana? #timJipyeong atau #timDosan?” kata-kata tadi mungkin udah beribu-ribu kali mengudara di textual jagad maya ya, hampir di seluruh platform media sosial, media online, bahkan mungkin berseliweran setiap detiknya di cloud.

Gimana gak mau fenomenal, setting ceritanya fresh banget sama kondisi perkembangan bisnis teknologi saat ini, lalu dibumbui sama kisah romansa-nya yang dibikin complicated, dan belum lagi… ditambah karakter tiap tokohnya yang bikin gemes (termasuk para cast-nya juga sih ya) :). Jadilah drama korea yang satu ini booming di penghujung tahun 2020. Ok, di sini saya gak akan bahas terlalu dalam soal karakter, cerita per episodenya, atau pendapat pribadi ikut tim siapa-nya. Saya hanya ingin menuliskan sisi lain yang saya lihat dari kacamata pribadi saya, first impression, ketika menonton drama korea yang satu ini, dari episode pertama.

Awal nonton ‘Start-Up’ ini sebetulnya ketika Netflix sudah menayangkan sampai dengan episode ke-4. Gak ada niatan sama sekali untuk menonton sih sebelumnya, kepikiran juga gak. Belum denger juga kalau drakor yang satu ini bagus untuk ditonton. Tapi kok judulnya kekinian banget ya, jadi pengen tau penggambaran ‘Start-Up’ di drakor satu ini seperti apa. Dan memang judul ‘Start-Up’ ini yang berhasil mengusik dan menarik mata saya untuk akhirnya mau menonton. Dari 4 atau 5 tahun yang lalu saya memang tertarik sama Perusahaan rintisan, namun sayang belum dikasih kesempatan sama Allah icip-icip kerja di sebuah perusahaan rintisan. Nah, karena rasa penasaran sama suasana kerja ‘Start-Up’ itu seperti apa, jadilah terbawa arus menonton drakor yang satu ini.

Terus, sisi lainnya apa nih? wait, wait, tadi masih muqodimah ya. Oke, ini sisi lain (kacamata) yang saya lihat ketika baru menonton episode-episode awal. Teman-teman readers kalau penasaran sama filmnya bisa nonton sendiri saja ya untuk episode awalnya, saya gak mau bahas karena nanti terlalu panjang tulisannya. Ini inti cerita awalnya aja ya, yang membuat saya tiba-tiba malah memakai kacamata yang berbeda dari biasanya.

Alur cerita awal dari film ini sebetulnya menceritakan tentang tokoh perempuan utam Seo-Dalmi yang menjalani masa kecilnya dengan penuh ujian, mulai dari Ayah dan Ibunya yang bercerai, Ayahnya yang jatuh bangun memulai bisnis/usaha, sampai dengan momen ketika Ayahnya meninggal dunia di saat kerja keras memulai usahanya menemui titik terang (mendapat investor). Selama masa-masa ujian tersebut, Dalmi terpisah dari kakak perempuannya dan Ibunya, dan sering merasa sedih dan kesepian, sehingga Neneknya berusaha untuk menghibur Dalmi dengan cara meminta bantuan kepada seorang anak laki-laki yatim piatu (Han Ji-Pyeong) yang saat itu tinggal di warung Neneknya Dalmi – karena sebatang kara dan tidak punya tempat tinggal-, untuk menuliskan sebuah surat (menjadi sahabat pena) yang bisa menghibur Dalmi agar tidak kesepian. Sayangnya, isi surat tersebut memakai nama anak laki-laki lain, dan bukan nama dirinya yang sebenarnya. Dibuat seolah-olah anak laki-laki yang ada dalam surat tersebut fiksi. Padahal, anak laki-laki yang namanya dipakai itu sebenarnya memang ada, dan isi setiap cerita dalam surat tersebut juga nyata dialami oleh yang menulis surat. Selang waktu 15 tahun kemudian, tokoh-tokoh nyata yang terlibat dalam surat-menyurat tersebut akhirnya saling dipertemukan kembali. Namun sayang, alih-alih jujur mengungkapkan tentang sejarah surat 15 tahun tersebut, jadi malah berusaha untuk menemukan anak laki-laki yang dipakai namanya dalam surat saat itu.

Melihat interaksi tokoh-tokoh dan alur cerita, serta karakter yang dikembangkan dalam episode-episode ‘Start Up’ ini, kemudian membuat saya malah teringat akan Surat-Surat Cinta-Nya, kalam-kalam Allah yang terkumpul dalam satu kitab, Al-Qur’an namanya. Lalu teringat lagi akan Nabi Muhammad, Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, yang dari lahir sampai dengan saat ini gak kebayang seperti apa rupa beliau karena tidak ditakdirkan untuk berada di Zaman yang sama dengannya.

Kaligrafi Allah Dan Muhammad Png - Nusagates

Saya, kita, hanya tau bagaimana melafdhzkan dan menuliskannya, namun belum pernah sekalipun berjumpa. Kita mengimani, percaya akan adanya perjumpaan nanti dengan Allah dan Rasul di akhirat kelak (semoga kita semua mendapat kesempatan itu.. aamiin). Mengingat tentang surat 15 tahunnya Seo-Dalmi, dan betapa tokoh Han Ji-Pyeong ini menjadi ksatria pelindung yang tak dianggap oleh Dalmi, sehingga membuat banyak netizen di luar sana oleng kapal dan beralih mendukung second lead actor, menyadarkan saya betapa sedihnya pasti menjadi yang paling menjaga, yang paling tidak ingin membuat orang yang disayang merasa sakit dan sedih tapi gak dianggap dan gak dilihat sama sekali. Teralihkan dengan sesuatu yang terlihat kasat mata tetapi tidak sama besar sayangnya dengan Sang Penjaga. Hmmm… kemudian jadi teringat betapa diri ini merasa bersalah karena sudah abai dengan sosok Sang Penjaga.

Allah dan Rasul, sayang banget sama kita, sama umat yang mengimani-Nya. Allah gak pengen kita masuk ke neraka, berbuat banyak dosa dan tidak bertaubat, saking sayangnya Allah Maha Pemaaf banget, udah kitanya sering cuek, sering lupa, seringnya gak dengerin dan ngelakuin apa yang dilarang Allah, gak menuruti apa yang Allah perintah, tapi Allah tetep aja sayang, Allah tetep maafin asal kita mau ingat lagi, mau kembali lagi sama Allah. Allah dan Rasul udah kasih kita berlembar-lembar surat cinta, panduan hidup (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang gak akan bikin kita kesusahan di dunia, yang bisa menghibur ketika melewati ujian-ujian selama di dunia, yang bikin kita tenang setiap harinya. Tapi kita masih aja cari-cari hal yang kasat mata di dunia dan lupa bahwa apa yang di sisi Allah itu jauh lebih baik.

Walaupun kita gak bisa melihat Allah untuk saat ini, belum pernah bertemu Rasul seumur hidup kita, tapi iman kita yakin penuh dengan apa-apa yang tertulis dalam setiap baris ayat Qur’an dan Hadits yang kita baca. Yakin bahwa Allah sampai dengan saat ini menjaga dan melihat kita, mengetahui apa-apa saja yang sudah kita lakukan dan yang mungkin akan kita lakukan di masa depan. Mengetahui segala kesusahan dan kemudahan yang kita hadapi, segala perkataan dan segala isi hati yang kita ucapkan; juga segala do’a yang kita panjatkan.

Jikalau kita bisa merasakan simpati dan empati sama tokoh Han Ji-Pyeong dalam drakor ‘Start Up’ ini, dan ngerasa sedih, sesak, kok karakternya dibuat sebegitu patah hatinya sih? Terus pernah kebayang gak gimana patah hatinya Allah dan Rasul kalau sampai kita yang mengaku muslim ini abai sama apa-apa yang sudah Allah kasih buat kita (nikmat sehat, waktu luang, keluarga, masih bisa bernafas dengan gratis setiap harinya, dsb), sama apa-apa yang sudah Rasul perjuangkan, Rasul contohkan, Rasul ajarkan tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim itu. Ushikum wa iyya nafsi bitaqwallah. Lalu apa balasan kita untuk Allah dan Rasul-Nya? Apa yang bisa kita lakukan untuk membalas cinta-Nya Allah dan Rasul yang sudah tercurah banyak untuk kita, yang selalu menjaga dan mengawasi kita?

Yuk, sama-sama kita kembali lagi ke Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yuk, balik lagi untuk bisa selalu ingat Allah di setiap keadaan kita. Mau berlama-lama membaca surat-surat cinta dari Allah, beribadah ikhlas hanya untuk-Nya dan berharap suatu hari nanti kita akan bisa melihat wajah Allah. Serta bertemu Rasulullah saw di telaga Kautsar. Aamiin aamiin Allahumma aamiin.

Terima kasih sudah membaca! semoga tidak hanya jadi pengingat untuk saya (pribadi) tetapi juga bermanfaat untuk teman-teman readers ya! Mohon maaf jika sisi lain (kacamata) yang saya pakai dalam melihat drakor ini berbeda dari teman-teman semua. See you on next post!

Wassalamu’alaikum 🙂

Hanya Dia

Tak pernah kulihat
Tapi Kau selalu ada setiap saat
Tak pernah kudengar
Namun namaMu, selalu bergema, menyentuh hati yang bergetar

Lalu, dari mana ku bisa percaya?
dari hati yang terpancar cahaya

Tak ada suara, tak jua terlihat
Namun, aku tunduk dan taat

Lalu, bagaimana aku bisa begitu tenang?
Bahkan saat aku tak menang
Bagaimana bisa aku tetap bersyukur?
Bahkan saat aku terjatuh, tersungkur

Sungguh hanya Dia yang Maha menggenggam hati.
Membawa tenang meski tersakiti.
Berbisik, membawa kabar gembira, meski berduka.

Karena ada hal indah menanti,
bagi hati yang kian sabar, kelak kan terganti.

Saat semua lelah… berganti hadiah

-Tea,April 2020-