Paksaku Jadikanku (rewrite)

Paksaku untuk menjadi bukan aku
Paksaku untuk tak jujur pada situasi
Tak ada lagi malaikat di hati
yang ada hanya setan bermuka kaku

Paksanya turuti semua titah
Paksanya jemukan asa ini
Tak ada lagi senyum bertuah
yang ada hanya kecut prasangka kini

Paksamu untuk relakan keadaan
Paksamu untuk terus bersyukur
Namun, bagaimana bisa diri ini bertahan?
pada semua kufur yang tak terukur

Mereka boleh anggap aku berubah
layaknya setan si bedebah
Tidak ada hormat apalagi berkerabat
yang ada hanya berbuat salah & berkeluh kesah
Berkawan dengan malas & berlaku onar

Namun, biarlah orang berkelakar

Paksaku… jadikanku… bukan aku.

Tea ~ 220315

Advertisements

Dibalik Antologi Puisi ‘Bukan Kita’

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! ­čÖé

Hai readers! Long time no post.. hehehe… lama yaa…. hampir setengah tahun gak nge-post┬ádi sini, kalah┬ádisiplin sama yang bikin vlog, padahal ribet┬ádan effort’nya lebih banyak ng-vlog emang sih, makanya mereka┬ádapet apresiasi┬ádari Youtube kalau berhasil menggaet subscriber yang banyak. Dan para Youtubers itu pun┬ádapat pundi-pundi pendapatan┬ádari hasil ┬ákarya mereka.

Walaupun blog juga awalnya bisa dijadikan sebagai ladang mendapatkan pundi-pundi, tapi please jangan┬ádibandingkan┬ádengan blog ini yaaa… sengaja memang bukan untuk komersial, hanya ladang curhat┬ádan sebagai wadah ala kadarnya┬ádalam berkata┬ádan bercerita.

Okeh. udah ah basa-basinya. Sekarang langsung masuk pada inti posting kali ini yaaa…

Maafkan┬ádiri ini yang memang tidak┬ádisiplin┬ádalam hal menulis┬ádi blog. Sedang ada banyak kendala, ujian,┬ádan cobaan “halah lebay ngelesnyaaaa… itu cuma alibi,┬ádan tidak perlu┬ádipanjang-lebarkan karena hanya akan menambah┬ádaftar alasan yang gak penting ­čśÇ

Baiklah, jadiiii… sebetulnya mau pengumuman bahwa alhamdulillah akhirnya di tahun ini ada karya dalam bentuk buku juga akhirnyaa.. yeaay! Walaupun bukan buku katajingga yaaa… hanya sebuah antologi puisi, dan itu pun 1 diantara 100 penulis terpilih lainnya yang karyanya juga ada┬ádalam buku tersebut. Ini penampakkan bukunya…

Terima kasih untuk Jejak Publisher (@jejakpublisher) dan juga Ka Vika (Dianovka) yang telah memberikan info soal lomba puisi untuk buku antologi tersebut. Sekali lagi hatur nuhun atas kesempatan dan apresiasinya. Senang rasanya terpilih (walau bukan pemenang) satu puisi diantara 99 puisi terpilih lainnya, dan terpilih dari 1000 lebih peserta lomba.

Alhamdulillah… berita baik tersebut terkirim via e-mail pada tgl 6 Mei 2017 yang lalu,┬ádan bukunya baru tiba kemarin, 10 Juni 2017. Sejujurnya, puisi yang mau┬ádikirimkan untuk lomba ini adalah bukan ‘Keluh’┬ádan temanya kebetulan sesuai, namun.. sayangnya puisi tersebut gak jadi┬ádikirimkan karenaa… puisinya sudah terlanjur publish┬ádi blog ini. Judulnya “Paksaku Jadikanku”. Link puisinya sudah terlanjur terhapus juga, tapi cache link page┬ádi google masih ada. Jadi yaaa… sudahlah, terpaksa membuat puisi yang baru lagi┬ádan postingan yang baru lagi untuk “Paksaku Jadikanku”.

But overall that I’ve been through, semua harus┬ádisyukuri :). Puisi barunya alhamdulillah terpilih! Yeaayyy… Nah, berikut ini adalah cuplikan puisi “Keluh” yang ada┬ádalam Buku Antologi Puisi ‘Bukan Kita’.

Pernah aku bermimpi
Seringnya aku berharap
Tak berbatas tepi
Bersimpuh, aku bersedekap

Namun, tak banyak harapku nyata
Seringnya… menguap tanpa kata

Tak banyak yang kudapat dari percaya,
hingga hilang dari hati sebongkah cahaya.
Tak seberkas pun terang dapat kulihat, karena hati telah tersayat.

Kini aku lelah…
Lelah bergantung pada yang fana,
hingga …
~
Selengkapnya… bisa diorder yaa di Jejak Publisher ;).
And next post, I will rewrite ‘Paksaku Jadikanku’ in this blog. Dan nanti, coba deh bandingin isi puisi mana yang lebih cocok untuk ada dalam buku antologi puisi ‘Bukan Kita’ dari Jejak Publisher ini. Please comment yaaa…

Thanks readers sudah menyempatkan waktu untuk membaca postingan kali ini. Selamat berpuasa! Sudah pertengahan Ramadhan nih, yuk sambil kembali beraktivitas dan beribadah sampai tiba di hari yang Fitri!

Wassalammu’alaikum…

Balada Thesis & Tenggelamnya #katajingga

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! ­čśÇ Hai readers, long time no say hi yaaa…

Maafkan sebelumnya atas diri ini yang kelamaan mencari wangsit, a.k.a bertapa :p. Nggak juga sih, cuma memang selama kurun waktu yang amatlah lama, beberapa bulan di tahun 2016 ini – sedang tidak memungkinkan untuk berposting ria di blog seperti biasanya (yang tetep jarang juga sih sebetulnya :D). However, fenomena BLOG juga sudah bergeser sih yaa… jadi lebih menarik dengan audio-visual melalui VLOG daripada hanya sekedar kata dan tulisan seperti ini. But anyway, saya tetap lebih suka mendaratkan dan menuliskan kata dibanding mengudarakan gambar dan suara, hehehe ­čśÇ (Anggaplah ini selera, atau memang naluriah penulis yang gak bisa jauh dari curhat lewat kata :p).

Baiklah, sudah cukup yaa intronya. Let say that I’m back! in the-almost-end of 2016. Feels good punya waktu banyak untuk nulis lagi, observes banyak hal, merenung lagi, see many things, terus mikir lagi, experience anykind of new things, terus brainstorming lagi hehehe… ujung-ujungnya sih yang pasti balik muter otak lagi mau buat ‘karya’ baru yang seperti apa. Nah, itulah yang terjadi selama hampir lebih dari enam bulan vacum nulis di blog. Lebih tepatnya sih karena sebagian besar waktunya tercurahkan untuk penyusunan Thesis S2 kemarin. Alhasil, #katajingga juga ikut tenggelam dari blog ini. Maafkan yaaa para pembaca #katajingga. Insya Allah di 2017, #katajingga akan berlanjut dan akan ada bukunyaaa… Juga akan hadir dalam cerita yang lebih baik dan dalam bentuk ‘real’ (Maksudnya? pasti nggak ngerti ya… hehehe, tunggu aja surprise-nya nanti! Insya Allah..)

Mungkin ada banyak yang kaget dan belum tahu mengenai keputusan saya untuk melanjutkan studi S2 ini. Selama tahun 2015-2016, diri ini timbul tenggelam di jagad maya dan per-social media-an. 2015 merupakan tahun hijrah saya dari zona nyaman selama 3 tahun berada di Bandung. Yess, sebelum Bapak Wali ter-Kece se-Indonesia menjabat di Bandung, index living happiness saya di sana memang sudah tinggi. Ke kantor hari minggu untuk sekedar ngecek perlengkapan event Training pun hepi-hepi aja, walau tidak terhitung lembur (next, sebetulnya gak bagus juga sih ini hehehe). Kenapa hepi? soalnyaaa sekalian sambil jalan-jalan. Rugi rasanya kalau tidak menikmati rindang dan sejuknya kota Bandung, hehehe ­čśÇ (promosi pariwisata lagiii :p #visitbandung). Nah, untuk out of my comfort-zone itu sebetulnya cukup berat, but I have to! For my own-good sake. Dan benar saja, di awal tahun itu, I feel jet-lag, home-sick at my home. So it was no longer home-sweet-home but home-sick-home. Setelah cukup lama bekerja di Bandung, merasakan kembali bekerja di Jakarta itu… was terrifying exhausted, and also tortured. Mau se-fleksibel apapun waktu kerja yang diberikan, saya tetap merasa tersiksa (secara batin). Ya, itu karena belum terbiasa lagi menghadapi kerasnya jalanan ibu kota (nggak di ibu kota aja sih, yang namanya jalanan emang keras :)) mana ada semen atau beton kering itu lembek, ya nggak? :p #janganterlaluseriusah).

Singkat cerita, Maret 2015 saya memantapkan hati untuk melanjutkan studi (S2) dengan mengambil bidang yang sedikit berbelok dari bidang studi strata 1 saya. Dengan pertimbangan yang cukup singkat, setelah melalui tahapan riset, perenungan, konsultasi, keresahan hati, do’a dan segala kenekatan diri, akhirnya dilalui lah sudah rangkaian pendaftaran tes dan penerimaan masuk studi ini. Dan, alhamdulillah… Allah melancarkan segala sesuatunya. Masa studi S2 saya terbilang singkat, programnya hanya 3 semester, itu artinya saya bisa menghemat usia kelulusan nanti (karena memang sudah lebih-dari-cukup umur yaa pada saat masuk, cuma seringnya banyak yang tertipu akan wajah ini :D). Sementara banyak teman sejawat yang sudah melanjutkan lembaran hidup yang baru, saya malah melanjutkan studi yang baru :D. Awal semester kuliah S2, amat sangat menyenangkan! Karena bidang studinya saya suka, dan seperti musafir yang kehausan, apapun tugas yang diberikan dosen main lahap aja, kuliah malam hari pun gak berasa capek, malah semangat dan terasa “kok sebentar banget ya kuliahnya?”. Ternyata benar adanya, melakukan dan menjalani segala sesuatu yang kita sukai itu jauuuhhhhh lebih ringan dan memungkinkan untuk go beyond our boundries, break our limits, and do the best as we can. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan, karena proses tidak pernah mengkhianati hasil. Prosesnya baik, insya Allah hasilnya pun baik.

Namun, selama kita masih bernafas, yang namanya manusia pasti tidak luput dari ujian dalam hidupnya. Semester kedua dan terakhir merupakan semester terberat. Walaupun proses belajar di kelas selama kuliah masih tetap menyenangkan, hal-hal lain seperti thesis, pekerjaan, dan finansial mulai menjadi celah ujian. But, hey that’s life, right?! Kripik kentang aja bilang “Life is never flat“. Up and down itu biasa… walaupun ngejalaninnya tetep gak biasa… hehehe. Sempat dibilang sama dosen kelas pembimbing thesis bahwa penilitian yang akan saya buat itu “Nggak Penting”, baru segitu aja udah lumayan bikin drop. Alhamdulillah-nya saya punya advisor thesis yang suportif, jadi lumayan cepet bounce back-nya lagi. Belum lagi masalah di pekerjaan (waktu itu masih sambil kerja), narasumber thesis, judul dan sudut pandang penelitian yang bolak-balik dirombak, finansial dan hal-hal penyakit sosial lainnya (Apa itu penyakit sosial? Nanti akan dibahas pada postingan selanjutnya di lain waktu :D).

Untuk jurusan studi apa yang saya ambil dan almamater tempat saya melanjutkan studi S2, bisa dilihat pada profil LinkedIn ini ya.┬áAnd I’m not like any others typical student on that Campus (just FYI). Typically not like the others, not in style or even lifestyle. Selain itu, untuk melalui semester 2, harus ada yang dikorbankan, yaitu pekerjaan. Karena pada akhirnya, teori penelitian yang saya gunakan cukup menyita konsentrasi, fokus, dan otak ini, sehingga di semester 2 sampai dengan akhir digunakan untuk bolak-balik keluar-masuk perpustakaan. Dan perpustakaan pusat UI cukup berjasa dalam berlangsungnya balada ini. And, that’s it? Nope. Jangan dikira semua kembali tenang, nyatanya tidak untuk seseorang yang aslinya nggak pernah bisa diem ini. I’m totally stressed out (honestly at that moment).

Lucky me!, Allah mempertemukan dengan teman-teman baru yang mengajak saya untuk lebih dekat dan giat beribadah. Setidaknya, kesibukan menjemput ilmu agama dan memperbaiki bacaan Qur’an setiap akhir minggu, perlahan dapat mereduksi tingkat stress karena thesis dan penyakit sosial yang mulai menjangkiti keluarga. Selain lebih tenang, ibadah pun jadi lebih rutin dan lebih baik dari hari ke hari. Banyak hal baik baru yang datang kemudian. Di semester 1, saya sempat merasakan bagaimana menjadi seorang pekerja, sekaligus pelajar, dan Ibu yang mengurus pekerjaan rumah tangga (kebetulan sedang ditinggal ortu ibadah Haji). Dan… ternyata super melelahkan, tetapi terlewati dengan baik, walau tidak sempurna. Di semester kedua dan terakhir, Allah kasih keleluasaan waktu, walau tidak se-melelahkan fisik seperti di semester pertama, tetapi cukup melelahkan hati. Beruntung kemudian dipertemukan dengan berbagai aktivitas relawan dan Qur’an Indonesia Project.

Sempat menjadi volunteer event as Usher untuk CeweQuat Internationale Forum pada bulan April 2016, bertemu & menjadi kontributor Qur’an Indonesia Project (rekaman) di bulan Mei & Juli 2016, relawan #pekanberbagisenyum Rumah Zakat sebagai Guru Tamu di SD Juara Jakarta Selatan di bulan Agustus 2016, serta relawan buku audio (audiobook) untuk aplikasi Ayobaca.in (yang dibuat oleh anak-anak XL Future Leaders untuk teman-teman tunanetra) di bulan September 2016. Tidak ketinggalan juga mengikuti event kajian ilmu yang diadakan oleh komunitas Remaja Masjid At-Tin. Sementara itu, pengerjaan thesis, tugas, UTS dan UAS perkuliahan tetap berjalan. Dari mulai semangat sampai bingung, sampai terinspirasi untuk nulis thesis lagi, sampai mentok mikir lagi, sampai sampai akhirnyaaa terselesaikan juga bolak-balik perpus-dospem-rumah-perpus-dospem-percetakan. Deg-deg’annya menunggu jadwal sidang, harap-harap cemas dosen penguji saat sidang, pasrah saat pengumuman selesai sidang… Hhhh.. sampai akhirnya terlewati masa revisi dan wisuda. Alhamdulillah… nikmat Tuhan yang mana lagi yang harus aku dustakan kemudian.

Tiga Semester, kurang lebih 1,5 tahun akhirnya terlewati juga balada ini. Antara terasa dan tidak, sang waktu berjalan menemani diri melewati semuanya. Sesuatu yang hanya berawal dari niat menjemput ilmu, menambah pengetahuan, mengembangkan diri, dan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kemuadian hari. Di tengah ketakutan tidak diterimanya pemikiran mengenai penelitian thesis, pertanyaan akankah semua terselesaikan tepat waktu dengan baik atau mungkinkah berhenti di tengah jalan?. Pada akhirnya, do’a-lah yang mengantarkan semua itu pada ujung cerita skenario balada ini, yang mungkin telah tertulis sebelum saya lahir. Bagaimanapun juga, semua niat, kehendak, dan tekad yang mengawali sebuah perjalanan dapat terjadi atas kehendak-Nya. Mengenai hasil, itu tergantung dari usaha dan do’a kita.

#katajingga pun tenggelam selama 1,5 tahun. Hanya satu yang berhasil dinaikkan ke permukaan. Namun, selebihnya ada banyak cerita selama 1,5 tahun menimba ilmu, timbul-tenggelam offline dan online. Satu tahun lebih melatih diri untuk ikhlas, bersabar, dan bersyukur. Menata hati dan pikir untuk bertafakur. Mengatur ulang segala sesuatunya. Terima kasih 2016 atas balada (dan bukan balado :p) thesis-nya. Terima kasih karena sudah memberikan warna serta warni di tahun ini (eniwei sampe sekarang gak tau itu warna sama warni, anak kembarnya siapa :p :)) #biargakterlaluserius). Dan balada ini pun berakhir, alhamdulillah, ~ Fin! Saatnya berganti musim…

Wassalammu’alaikum